Tampilkan postingan dengan label intertek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intertek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Milad di Sushi Tei

24th Milad di Sushi Tei

Saya sedang bergairah untuk menulis. Selagi masih dapat jaring wifi. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Termasuk dari foto -foto yang saya simpan di HP saya ini. Salah satu gambar yang akan saya ceritakan adalah seperti terlihat diatas.

Saya akan perkenalkan kawan kawan yang turut serta dalam judul : Buka shaum bersama (meskipun saya tidak berpuasa). Senin 13 Februari 2012 lalu. Dr. Edi Sukur, Intan Sutarto , Riska Ayu, Wulan Prima, Abdul Rohman, Sofa Multazam, dan Raditya Sunu.

Berawal dari ajakan iseng sore-sore setelah meeting atau lebih tepatnya silaturahim. Karena tidak ada bahasan khusus saat itu. Saya, Wulan, dan Burhan dari BIC, Serpong. Hendak mampir ke markas MITI di Alam Sutra, Serpong. Tidak jauh memang jaraknya, hanya saja kadang kepadatan kendaraan di sore hari membuat jarak menjadi jauh oleh waktu tempuh. Kedatangan kami pun sederhana. Ingin berjumpa dengan kawan-kawan Intertek Intan dan Radit yang oleh karena satu dua hal saat itu mereka diminta untuk bergabung di MITI.

Singkat cerita, sesaat sebelum pulang tercetus idea untuk makan-makan sebagai pembuka shaum. Saya awalnya, ingin langsung pulang saja. khawatir jalanan sepi menjelang Isya. Pertimbangan lainnya adalah, sayang banget tawaran ini ga disambut (#mentalmahasiswa). Saya, Burhan, Rohman, membawa Motor. Sisanya ikut di Freed nya pak Edi. Kami mengikuti dari belakang, hendak kemana masih belum tahu. Ikut aja dulu. Dan tak dinyana, saya kehilangan jejak di bundaran terakhir pintu utama Alam Sutra. Merasa kehilangan jejak saya putar arah dan berhenti di sisi jalan dan mengirim pesan via wasap ke wulan dan riska (gada pulsa sms/Telp saat itu). Saya biarkan sejenak dua jenak menanti jawaban.

 Sambil terus berjalan ke arah Pom Bensin untuk mengisi bahan bakar. Masih mennti jawaban, belum ada yang merespon. "saya kehilangan. kalian ada dimana?" Sejurus kemudian. Saya kirim pesan ke Burhan. tidak ikut langsung pulang ke Depok, jawabnya. Maka tinggallah saya di persimpangan. Langsung pulangkah, saat itu adzan maghrib mulai bersahutan. Saya dapat panggilan dari Riska. Sedang dimana? Saya jawab masih disekitar bundaran utama Alam Sutra yang ada jam gedenya itu. Saya sebutkan nama restoran saat itu. kalau kalau mereka ada disana. Saya minta dikirimkan sms saja. Karena suara panggilannya kalah bersaing dengan bising jalan.

Masuk ke Alam Sutera lagi. Seberang mall sebelahn sama Starbucks ada Sushi Tei. Saya parkirkan motor di depan, entah salah atau tidak di samping persisi Freed pa Edi. Kemudian, mendapati mereka duduk duduk, sesampainya saya datang. Agak kagok pas ditanya. Pesen apa? Liat-liat menu yang disajikan. Waduh mau pesen apa? Tanya ke Sunu, Riska, Wulan mereka pesen apa. Kemudian saya juga tanya ke mba-mba nya. Yang enak apa y mba? kemudian diperlihatkan menu dari ikan salmon. Okeh, tapi saya pilih yang dimasak dan ada kecap dan sausnya plus pake nasi (saya lupa namanya) dan minumnya teh hijau dengan buih semacam cream.

menu pesanan saya :9
Salmon segar dan telurnya diatas nasi

Kemudian, Pa Edi sebagai alumni Jepang dan bertahun tahun tinggal disana. Mulai memberikan kuliah umum tentan per sushi an termasuk cara memakan Salmon segar dengan di campur wasabi (sambal ala jepang warna hijau dari dedaunan serupa mint, aneh gimana gitu). Sebagai tambahan oleh pihak sushi tei. Bagi yang berulang tahun pada bulan itu akan mendapatkan paket tambahan seperti pada gambar dibawah. Paket Salmon segar yang dibentuk menyerupai Mawar dengan Lilin diatasnya dan ditaburi telur ikan  diatas nasinya. Awalnya menggoda, tapi lidah saya mengecap berbeda. Alhasil, tidak jadi saya makan tapi pak Edi dengan berbaik hati mau menghabiskannya biar ga mubazir. Setelah ritual makan malam ini usai. Tak disangka pa Edi yang mengakomodir ini semua (baca : Traktir). Padahal, kalo saya lihat di buku menunya untuk minuman yang saya pesan saja 20 rb lebih. ;) tks Pa Edi dkk. Perayaan Milad yang mengesankan. Selamat milad pa Edi (9 Feb) dan Riska (20 Feb). Ingin ke Sushi Tei lagi tapi dengan komposisi personel yang berbeda dan Tempat yang juga berbeda. Berdua aja #ngayal. Hehe.. Sekian

Senin, 06 Februari 2012

Intermediasi Teknologi Untuk Memperbaiki Mutu Kakao Rakyat


Bersaing dengan kakao dari Pantai Gading dan Ghana. Posisi Indonesia menempati posisi ketiga dalam produksi biji kakao dunia. Sekitar 450,000 ton dihasilkan setiap tahunnya. Dan sekitar 89 % diantaranya berasal dari kakao milik rakyat. Namun, dari sisi kualitas kakao yang dihasilkan milik rakyat tersebut masih rendah.
Dalam Press Relase kedutaan besar Amerika tentang penilaian pihak AS atas biji kakao Indonesia (Oktober 2005). “Bahwa jumlah ekspor biji kakao ke AS ini menurun. Bukan semata automatic detention atau pemotongan harga. Sebagian besar biji coklat yang diterima dari Indonesia, dalam keadaan Mouldy (berjamur atau bulukan). Hal tersebut dapat disebabkan oleh proses pengeringan yang tidak dilakukan dengan benar. Disamping itu, biji kakao Indonesia tersebut, rentan dengan serangan Cocoa Pod Borer yaitu sejenis hama yang akan memakan biji kakao.”
Laporan tersebut menunjukkan pandangan negara pengimpor kakao seperti AS misalnya terhadap Kakao Indonesia. Terdapat banyak faktor memang yang mempengaruhi mutu kakao itu sendiri. Salah satu hal yang mengakibatkan mutu biji kakao rendah, berawal proses fermentasi yang kurang sempurna. Pada tahapan fermentasi ini sebagian besar petani kakao enggan untuk melakukannya karena memerlukan waktu yang sedikit lebih lama. Perilaku pekebun ini dipicu salah satunya akibat fluktuasi harga yang cukup tajam bergantung pasar internasional. Pada saat harga berfluktuasi tajam, pekebun pada umumnya ingin cepat menjual hasil kebunnya tanpa melakukan pengolahan yang memadai, sehingga mutunya rendah.
Jika kita tarik hingga kehulu, masalah kakao ini cukup luas dan rumit. Persoalan tersebut mencakup sumber daya manusia dan kebijakan. SDM/pekebun itu sendiri umumnya kurang memperhatikan soal mutu/kualitas. Tahapan dalam budidaya kakao ini dimulai dari pemilihan benih, budidaya, pemeliharaan hingga panen. Pasca panen hingga mendapatkan biji kakao berkualitas juga cukup banyak meliputi pemeraman, pemecahan buah, dan fermentasi. Upaya ini memerlukan penanganan tenaga lapang/penyuluh maupun upaya peningkatan kapasitas pekebun melalui serangkain kegiatan pelatihan.
Masalah lain yang juga memicu permasalahan adalah upaya pemerintah yang masih kurang memperhatikan peningkatan mutu. Terlebih adanya kebijakan yang membuka peluang ekspor kakao dalam bentuk biji tanpa fermentasi (unfermented). Padahal, harga biji kakao tanpa fermentasi ini lebih rendah dari setelah fermentasi, sekitar US$ 300/ ton.

Inovasi Teknologi Kakao Fermentasi

Adalah Dr. Misnawi dari Pusat penelitian kopi dan kakao Indonesia di Jember. Berhasil melakukan invensi riset dalam upaya peningkatan mutu kakao non-fermentasi melalui reaktifasi enzim. Inovasi tersebut juga tercatat dalam buku “100 Inovasi paling prospektif Indonesia” yang dikeluarkan oleh Kementrian Riset dan Teknologi, Republik Indonesia, Agustus 2008 lalu.
Inovasi tersebut dilatarbelakangi keprihatinan akan mutu kakao rakyat yang rendah. Sebagai akibat fermentasi yang dilakukan terhadap biji kakao masih kurang sempurna. Serta adanya potensi kehilangan uang negara sekitar Rp 750 M (US$ 84 juta) setiap tahunnya, atas potongan harga atau penolakan dari negara pengimpor.
Teknologi yang dilakukan pun terbilang sederhana, mula-mula biji kakao kering atau kurang fermentasi di bersihkan dari pengotornya. Kemudian mengaktivasi enzim dengan melembabkan biji kakao, meniriskan sisa air, kemudian menginkubasi pada suhu 45o C. Inkubasi inilah yang dikenal sebagai inkubasi in-vitro. Optimasi refermentasi pada biji kakao tersebut disesuaikan dengan lama waktu enzim beraktifitas selama 72 jam (3 hari).
Tim inventor tersebut menemukan, melalui inkubasi in-vitro. Inkubasi biji kakao kurang fermentasi dalam skala laboratorium dapat meningkatkan nilai uji belah (cut test) dan cita rasa setara dengan kakao fermentasi. Lebih lanjut, tim peneliti juga sedang melakukan serangkaian pengujian untuk melindungi biji kakao menggunakan bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat akan diaplikasikan dalam proses inkubasi (refermentasi). Dengan demikian, biji kakao yang dihasilkan tidak hanya bermutu tinggi, tetapi juga tahan simpan dan terbebas dari kontaminasi mikotoksin, khususnya aflatoksin dan okratoksin.

Intermediasi Teknologi : Invensi menuju Inovasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Invensi berupa “penciptaan atau perancangan sesuatu yg sebelumnya tidak ada” adapun inovasi merupakan “(1) pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan (2) penemuan baru dari yang sudah ada atau yang sudaj dikenal sebelumnya (gagasan, metode, alat)”. Sekilas dua kata tersebut serupa, dengan kata-kunci (keyword) : nilai baru, pembaharuan, penemuan. Namun dalam istilah yang umum dikenal dalam akademisi dan bisnis. Penciptaan nilai tambah dari suatu invensi baru bisa dikatakan inovasi. Dengan kata lain, inovasi adalah penemuan tersebut baik gagasan, metode, atau alat dapat diaplikasikan dan diserap pasar (market demand) serta mempunya sisi nilai bisnis.
Pada umumnya, terdapat perbedaan paradigma dari sisi akademisi. Dimana, dalam penciptaan nilai suatu produk hasil riset kurang memperhatikan kemauan pasar. Dapat dikatakan kurang dapat di-komersialisasi-kan. Dalam hal ini perlu ada suatu kolaborasi dari inventor dan pelaku usaha/industri. Namun, lagi-lagi terdapat rantai yang putus (missed link). Jika mengandalkan inventor dan pelaku usaha untuk bersinergi. Seringkali terdapat beberapa hal yang kurang sreg atar kedua pihak tersebut. Pemerintah, melalui dukungan kebijakan atau dukungan peraturan dan kelembagaan pun seringkali salah sasaran.
Sinergi ABG (akademisi, bisnis, dan pemerintah) sudah waktunya dioptimalisasikan dengan mendirikan lembaga yang bekerja di antara tiga element tersebut. Lembaga Intermediasi, begitu nama lembaga antara ini, dapat dibentuk oleh Pemerintah untuk menjembatani hal tersebut. Lembaga ini berfungsi secara spesifik untuk membawa invensi menjadi inovasi. Penerimaan pasar atas suatu penemuan dari lembaga litbang atau kampus dapat menambah nilai tambah tersendiri.
Di negara-negara maju yang sudah lebih dahulu menerapkan, seperti German misalnya. Lembaga intermediasi ini menyebut diri sebagai Technology Tranfer Centre. Membawa Teknologi menuju Pasar (Technology to the Market). Aktivitas yang dijalankan pun adalah upaya mensinergikan pemain-pemain kunci dalam produk teknologi.
Lembaga intermediasi teknologi ini dapat dikembangkan untuk membantu dalam upaya membawa hasil invensi. Teknologi refermentasi kakao tersebut agar dapat dikomersialisasikan menjadi suatu bisnis tersendiri. Untuk menyelamatkan potensi kehilangan negara, yang oleh Dr. Misnawi tersebut mencapai Rp 750 M setiap tahunnya. Dana sebesar itu adalah potensi dari pemotongan harga ekspor biji kakao sebesar US$ 270-300/ton.
Sebagai asumsi, total produksi kakao Indonesia setiap tahunnya sebesar 475,000 ton. Sekitar 106,533 ton (22,4%) dihasilkan dari kakao milik rakyat di Sulawesi Selatan. Bila lembaga intermediasi ini berhasil mengambil hati 8-10% petani kakao Sumsel untuk bekerja sesuai prosedur dan mutu baku pengelolaan pasca panen kakao untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sekitar 5,300 ton biji kakao dapat di 'selamatkan' dengan teknologi refermentasi in-vitro ini dan dapat menghindari pemotongan harga yang tidak perlu akibat mutu yang rendah tersebut. Dengan mengalikan jumlah ton terselamatkan dan US$ 300/ton maka didapat angka yang luar biasa sebesar US$ 1,590,000 (1,5 juta Dollar AS). Meskipun diakui memang tidak sesederhana itu, dalam praktiknya. Terdapat hal lain diluar mutu produk itu sendiri yang mempengaruhi harga, terlebih dalam perdagangan internasional.
Terdapat sedikitnya tiga hal peran lembaga intermediasi teknologi ini dalam menerapkan invensi menjadi inovasi. Pertama, mendirikan dan mengelola inkubasi bisnis (business incubation) dan pilot project. Meskipun sudah dinilai cukup baik teknologi invitro refermentasi ini dalam skala lab. Namun, di lapangan perlu dilakukan pengujian dan ekperimen medalam kembali dengan skala/jumlah yang lebih besar dengan peralatan dan kondisi yang biasa dilakukan oleh petani. Membuat pilot project misal untuk 2-3 ton biji kakao menerapkan teknologi invitro refermentasi tersebut.
Kedua, Para intermediator harus pandai-pandai menarik hati kliens (petani kakao, pelaku usaha/industri kakao, dan pemerintah daerah setempat). Dengan membuat kegiatan forum yang mempertemukan ketiga elemen tersebut. Dalam forum tersebut juga akan membuka peluang pembicaraan yang lebih lengkap tentang peran masing-masing.
Ketiga, intermediator juga dapat membuka pasar baru (a new market) dengan menjadi fasilitator untuk mengembangkan produk (biji kakao terfermentasi) menjadi produk turunan bernilai tambah ataupun dapat bermain untuk memotong rantai pasok eksporter. Dalam hal ini, kejelian menangkap kebutuhan pasar baru harus dimiliki para intermediator.
Sekurang-kurangnya rangkain proses diatas dapat dilakukan dalam 12-15 bulan melalui berbagai pendekatan dan cara yang disesuaikan dengan kondisi dilapangan. Jika ini berhasil, lembaga intermediasi (tim intermediator) turut serta dapat menyelamatkan potensi kehilangan harga biji kakao karena rendahnya kualitas. Sekaligus mendorong invensi menjadi inovasi



Tangerang, 6 Februari 2012 (15:28)


Minggu, 29 Januari 2012

Dreams Dont Turn to Dust



video yutub diatas adalah pengalaman kami (saya dan tim internship) saat berada di Dresden, Germany selama bulan November 2011. Untuk melakukan internship (pemagangan) di TU-Dresden. Pada Jumat, 18 November 2011. Mr. Sven Schellin, supervisor kami, setelah pulang dari mengunjungi Waste Management Centre milik TU-Dresden. Secara mengejutkan, beliau mengajak kami untuk bertualang ke Saxony-Swizz.

Kami tidak ada persiapan khusus sebelumnya. Kami kira seharian akan ada di ruang kelas atau mengunjungi pusat inkubasi dan yg terkait. Sayangnya, tim kami tidak lengkat. Salah satu rekan saya, Mba (drh.) Intan Sutarto, sedang menjalani pemagangan di tempat lain. Terkait Animal Medicine and Welfare, selama satu pekan. Dan, tentu saja, kami merahasikan kegiatan ini sampai kami tiba di hostel, kami ceritakan dengan video dan foto-foto. Sambil cengara-cengir kami tunjukkan foto-foto di saxony swizz. Jahat banget ya kitah. Hmm.. gak juga ding.

Eniwei, saxony swizz adalah cagar alam atau national park yang dimiliki Dresden, Germany. Berupa bukit bebatuan, dengan jembatan (Bastei Bridge) yg terkenal diatasnya, menggantung diantara dua batu besar, sekitar dua ratus meter diatas suangai Elbe yang membentang di bawahnya. Entah kenapa namanya ada kata "Swizz" mungkin karena swizz itu terkenal untuk urusan natural view-nya Eropa. Jadi, kalo ada lanscape alam yang menawan, orang akan ingat dengan nuansa alam yang menawan di Swiss kali (versi ngarang). Entahlah.

Oia, satu lagi, awalnya (kalo tidak diajak tiba2 dengan Mr. Sven ini), kami merencanakan untuk pergi sendiri (bersama Tim, ber-6) esok sabtunya, 19 November 2011. Rencana awalnya demikian. Lantaran, saat kami berkunjung sehari ke Prague, Rep Cesk, dua pekan sebelumnya, 5 November 2011. Kami melihat Bastei Brdge itu dari balik kaca kereta kami. Spontan saja saat itu, "sebelum kita meninggalkan Dresden ini, kita wajib kujjungi jembatan itu (saat itu belum tau namanya Bastei)" hufh... Selalu ada keajaiban dari setiap ingin-ingin kami. Subhanllah..

Judul postingan ini sebenarnya adalah judul salah satu hits Owl City. Saya pakai untuk mengiringi (backsound) video diatas. kayanya relevan dengan isi video tsb. Monggoh kalo mau liat liriknya, saya postingkan dibawah ini :

Dreams Don't Turn To Dust

Splashdown in the silver screen,
Into a deep dramatic scene,
I swim through the theatre,
Or maybe I'm just a dreamer!

Like a kite in the bright midday,
Wonder stole my breath away,
Shy sonata for Mercury,
The stars always sing so pretty.

This picnic will soon depart,
Real life, I'm sad to see you go,
I'll miss you with all my heart,
But I'd rather be alone.

'Cause I couldn't live without,
The sunsets that dazzle in the dusk,
So I'll drag the anchor up,
And rest assured, 'cause dreams don't turn to dust!
Dreams don't turn to dust.

I made for the countryside,
And my eyes never grew so wide,
Apple, raspberry, river blue,
I don't wanna leave without you,

In the sound I'll gladly drown,
Into the emerald underground,
And I rub my eyes 'cause it's hard to see,
Surrounded by all this beauty.


This picnic will soon depart,
Real life, I'm sad to see you go,
I'll miss you with all my heart,
But I'd rather be alone.

'Cause I couldn't live without,
The sunsets that dazzle in the dusk,
So I'll drag the anchor up,
And rest assured, 'cause dreams don't turn to dust!

When tiger eyes begin making you blush!
When diamonds boast that they can't be crushed,
Let 'em go 'cause dreams don't turn to dust!

This picnic will soon depart,
Real life, I'm sad to see you go,
I'll miss you with all my heart,
But I'd rather be alone.

'Cause I couldn't live without,
The sunsets that dazzle in the dusk,
So I'll drag the anchor up,
And rest assured, 'cause dreams don't turn to dust!
Dreams don't turn to dust!
Dreams don't turn to dust!
Rest assured, 'cause dreams don't turn to dust.

( From: http://www.elyrics.net/read/o/owl-city-lyrics/dreams-don_t-turn-to-dust-lyrics.html )


Minggu, 22 Januari 2012

Sarangan Lake, Magetan

Berada di atas Boat yang mengajak kami berkeliling menyusuri 
telaga Sarangan, Magetan 
(8 Januari 2011). Thnx to Riris's Family :)

Puncak Bromo

Diambil dari om wiki :

Gunung Bromo (dari bahasa SanskertaBrahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten ProbolinggoPasuruan,Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Berikut foto2 saya menyusuri puncaknya ( ada yang bilang no pict = hoax), 
monggoh gan, di liat2.. :p

batas akhir odjek yang mengantar kami sampai disini, lihat di belakang kami, 
puncak Bromo yang akan kami taklukkan. Hoho  
(kiri-kanan : riris, phyto, me)

mendaki gunung lewati lembah, ets.. hehe.

menjelang pendakian anak tangga, hufh-hufh-hufh, 
atur nafas-buang perlahan.
riris dengan ransel "Jack-Wolfskin"-nya :) 

pepohon sekitar ikut meranggas, beberapa bulan sebelumnya, 
kawasan Gn. Bromo ini tertutup karena aktifitasnya "batuk-batuk" (untung kagak pilek die, #eaa) 





berfose dulu ahh..didepan gunung  Batok, masih kerabat
 sama Bromo  (dulu saya kira gunung ini yg disebut Bromo)
Sudah Mencapai Puncaknya (Foto membelakangi kawah) | 
saya lupa siapa nama mas yang ambil gambar ini, katanya dia sudah belasan kali ke bromo, dan baru kali ini lihat kawah tanpa asap dan terlihat cairan kekuningan :ngerigan:
Ada lebih/kurang dua ratus empat puluh enam anak tangga hingga menuju puncak Bromo
 atau sekitar 90 meter. Jika dihitung dari batas kuda sudah tak mampu lagi mendaki :)

Dibawah itu ada kawah yang biasa mengepulkan asap. tetapi kali ini kami melihat tanpa asap. 
Dan, cairan berwarna kuningan berada dibawah ceruknya. 



Tiada gunung yang lebih tinggi, selama puncaknya ada dibawah lututmu.
(Gn. Bromo, 29 Desember 2011) 



Next target : Puncak Mahameru (Mimpi ini belum usai kawan!)
PS : Naik gunung itu bikin ketagihan kawan... subhanallah

Selasa, 10 Januari 2012

Wonocolo gang modim

31 desember 2011, setahun yg lalu :-P saya resmi pindah kosan dari pengungsian di Rungkut Asri Utara. Lebih tepatnya menempati rumah kawan, M.Rifan, yg katanya sudah dua tahun dibangun tapi belum ditempati. Kata ayahya bangunan itu untuk mba nya ( sudah menikah).

Di depan rumah ini terhampar halaman luas, yang rencana kedepannya akan dibuat bangunan, kata ayah rifan. Bangunan depan dan menyatu dengan bangunan yg ada saat ini. Pantas saja sudah teronggok batu batu gunung khas untuk pondasi dan coran didekat pagar masuk. Juga ada genting genting merah yg tersusun menumpuk, dibiarkan kehujanan tanpa terpal.

Memang rada unik sih bangunan yg saya tempati sebagai tempat berbaring dan menggalau *eh. Pasalnya begitu masuk. Didepan, dua kamar mandi/WC berlokasi bersebelahan, sukuran 3x2m. Berbentuk letter dari luar. Dua didepan berupa WC tadi dan tiga disisi lain adalah kamar-kamar berukuran 3x3m. Dan kamar yang saya tempati berada di ujung paling kiri dari bangunan ini.

Sebenarnya ada slot kecil berupa meja beton yg dipasang letter L di siku antara kamar mandi dan kamar ujung kanan yang bisa dipakai untuk dapur. Untuk meletakkan kompor dan rupa perlengkapan dapur lainnya. Tapi untuk saat ini dibiarkan kosong saja. Selain saya biasa untuk menaroh satu mangkuk, dua piring, dua sendok, satu garpu, dan gelas--perlengkapan awal yg saya punya untuk saat ini. Hihi

Begitu kali pertama menjejak dengan dua ransel dan satu travelling bag. Kamar yg akan saya tempati sudah ada lampu, gorden merah jambu (saya ulangi, merah jambu :-*) menggantung hingga menutup lubang angin atas tapi tanpa 'kawat nyamuk', sebuah tempat tidur + kasurnya dengan ukuran 2x2 ( yg ternyata disusun dari dua kasur kapok 2x1m). Semua tampak sudah siap. Tapi lantaran, tidak dipakai, lazim adanya debu-debu yg menempel di lantai dan sarang laba2 di langit2 juga nyamuk2 dikolong2nya.

Sekitar dua jam beberes. Nyapu, ngepel, menjemur kasur dan bantal2, merendam seprei2nya, membilas lantai dan bak kamar mandinya. Siang yang cerah [dan panas khas surabaya]. Suguhan siang itu soto suroboyo khas buatan ibunya rifan pas banget.

Satu dari tiga itu nantinya akan dibuat ruang kerja tim. Lanjut rifan. Sambil menunjuk ruang kosong di ujung sebelah kanan dekat dapur itu. Rencananya akan ada meja komputer dan kursi-kursi [mungkin jg karpet]. Oleh karenanya kamar kosong itu saya biarkan kosong tidak dipakai. Ruang disebelahnya yang juga ruang tengah bangunan ini. Saya hamparkan sajadah untuk sholat [ untk solat sunah dan klo gak keburu berjamaah dimasjid. He]

Sore, 31 desember 2011. Hujan sedemikian lebatnya. Yang konon katanya malam di hari itu akan jadi malam pergantian tahun dan sudah ramai berita dimana2 di kota2 lain. Ancaman hujan terhadap pesta2 kembang api yg direncanakan itu. Dan, hujan masih sedemikian derasnya hingga magrib menjelang. Saya sih masih asyik aja bercericit, berbagi kegalauan di twitter. Hingga.. Saya dapati halaman depan kamar yang beraneka rupa rumput teki dan lalang ini menjadi kubangan sedalam mata kaki. Dan diluar sana, anak anak sudah hingar berteriak yang saya lihat dari kejauhan di kamar. Rupanya mereka asyik berjalan jalan di jalanan gang yang mendadak jadi kolam seukuran betis orang dewasa atau 25-30 cm. Dan lagi, dua rumah sebelah kosan saya airnya masuk kedalam rumah. Malang sekali mereka. Saya keluar rumah untk sholat maghrib berjamaah. "ini banjir yg pertama selama saya tinggal disini" begitu seluroh ibunda rifan. Saat kami makan malam, yang lauknya masih soto surabaya khas.

Wow! Untuk kali pertamanya saya datang kesini dan banjir *ngayal klenik. Tapi saya gak bawa apa2 kesini. Yaiyalah secara, keluarga rifan sudah belasan tahun disini. Dan ini terjadi di akhir 2011 jelang 2012. *kemudian hening

Jarak kosan saya (baca: rumahnya rifan yg pinjamkan ke saya) dan.rumah rifan terpaut empat rumah. Yang katanya rumah-rumah diantara masih ada hubungan alias sodaraan. Tepat didepan kosan terdapat semacam pengepul barang bekas rongkosan. Mulai dari plastik, kertas, ban dalem sampe sepeda bekas/besi tua. Campur2 disana. Yang pada banjir lalu itu, khawatir kalo-kalo sampah2 besi tuanya. Menciderai pejalan kaki atau motor yg dipaksa menerabas. Dipaksa karena boleh jadi muda-mudi saat itu ingin merayakan mlm tahun baru yg juga satnight. Kemudian jarak kosan ke masjid terdekat hanya berselisih 12 rumah. Tapi saya sering terlambat sholat disini. Lantaran biasa di kampus, ipb, atau di rumah, tigaraksa, bada adzan ada selisih 15 menit sebelum iqomat. *ngeles hehe.

Nama jalan ini gang modim. Entah apa artinya. Kalau di djakarta doeloe say pernah tinggal ada namanya gang haji sanip, haji ali, sampe haji mansyur. Lantaran mereka-mereka tuan tanah disana waktu sekaligus tokoh. Di gang ini juga ada pesantren mahasisma. Semacam al inayah dan al iffah di ipb yg masyhur itu. Santri/wati nya adalah juga mahasiswa IAIN surabaya [masih IAIN bukan UIN]. Sehingga penampilannya pun, untuk akhwat, berkerudung sedada dan banyak juga yang bergamis, amat sedikit disini yang memakai jeans pencil dan maaf u can see jilbabnya. Maka dari itu, mereka tampak manis dan *plokk udah keburu digampar gw. He. *Sabar2, sebentar lagi ada yg lebih manis kok, gula jawa. *opoo
_____
Inilah sekilas info. Ngisi waktu sore2 ngegaje di kosan. Sambil mulut tetep ngunyah penganan dari magetan, kue carang mas, ubi jalar yang diiris tipis2 dan dibuat sedemikian rupa dengan gula merah sebagai perekatnya mmbentuk bulatan. He

10 jan 12 / 16.32
Published with Blogger-droid v1.7.4

Minggu, 08 Januari 2012

#everydayisholiday

Hi sobat muda
Lama tak bersua dan menyapa. Saat menuliskan ini, saya berada di po. Mira, bus solo - surabaya. Barusan banget naek dari terminal maospati, magetan.
Sambil juga mendengarkan 'musisi jalanan' ini mendendang 'alamat palsu'.

Jadi saya pengin bercerita tentang judul tulisan ini. Yup, hari-hari penuh liburan *ahaii.. Bukan maksud untk pamer-pameran. Tapi saya anggap, pekerjaan saya seperi liburan. Jalan-jalan, lihat-lihat, makan-makan, tulis-tulis. Jenis pekerjaan yg amar saya syukuri ini--meskipun tidak pernah sebelumnya untk masuk dalam jenis profeai yg baru kali ada di indonesia. He.

Djuanda
Sehari setelah natal, 26 desember 2011, senin. Untk kali pertama jua. Ibu mengantarkan sampai pintu terminal 1A bandara soetta. Perjalanan domestik pertama dengan pesawat pasca dari germany beberapa pekan sebelumnya. Kali pertama juga bepergian sendirian. Klo biasanya rame2. Saya akan terbang ke surabaya dengan pesawat lion air yg dijadwalkan pk. 09.10 . Sudah pukul 08.00 saya tiba, cek in, menunggu.

Memandangi jakarta di ketinggian sekitar 4000 kaki itu #keren. Lalu bertambah tinggi dan berselimut awan hingga tak ada pemandangan "maket" itu. Persis sekali seperti memandangi googlemap versi live.

Tidak jua ngantuk, tapi mata ini harus dipejam. Duduk persis jndela, dpat memandangi pergerakan dinamis sayap pesawat itu #keren. Hingga saru jam 30 menit. Pesawat akan mendarat. Entah kenapa bisa begitu lama. 10.40 dijadwalkan sudah medarat di djuanda, surabaya.

Bandara djuanda saya pikir tidak lebih besar dari soeltan syarif kasim II, pekanbru, riau. Keduanya juga berpredikat " bandara internasional". Dengan ringannya, hnya tas gemblok Rei di punggung. Berjalan masuk koridor. Dan cerita yang sudah lama didengar tentang surabaya ini terbukti. Puanaasse reekk terasa. He.

Saya hanya membawa dua tas di bagasi yang berukuran sedang.-- Awalnya ingin membawa koper lemari yang kemarin dibawa ke jerman. Lantaran satu rodanya lepas. Maka batal rencana itu.-- sedapat mungkin berisi perlengkapan survival untuk satu bulan ke depan dengan tas itu.

Sambil mendorong troli menghadapkan arah pintu keluar. Melihat-lihat sekitar. Tepat di depan pintu keluar. Terdapat sebuah loket bluebird taxi--yg kata bapak saya, yg pernah bolak-balik k srbaya ini--taxi di djuanda ini harus lewat loket resmi. Maka saya katakan saja,
"ke rungkut mas" sambil saya lihat alamat lengkapnya yg pernah dikirim riris via sms "rungkut asri utara"
Petugas itu melihat semacam buku besar sambil mengingat-ingat, lokasi tersebut masih dalam zona A katanya. " 95 ribu mas"
Tidak ada tawar - menawar, harga pas. Berangkat. Ternyata bukan taxi sedan dengan warna biru khas bluebird. Mobil yg saya tumpabgi ini avanza metal, tentu tanpa argo didalamnya. Petugas di bandara memberikan semacam surat jalan kepada sopir tsb. Dan kami pun meluncur.

Tiga puluh menit hingga sampai rungkut. Tidak macet memang tapi ramai dngan kendaraan pribadi yg didominasi motor. Belakangan saya tahu, angkutan massal di surabaya ini minim atau dibuat sedikit di jalan-jalan.

Dan tiba jua didepan rumah berpagar tinggi seperti tertulis di sms. Rungkut asri utara II no. 5. Dua rumah sebelah alfamart,tidak jauh dari pasar tradisional dan kecamatan rungkut.


Welcome surabaya. Im here!
26des 2011 pk. 12.30
Published with Blogger-droid v1.7.4

Minggu, 30 Oktober 2011

Berlin - dresden

Berada di gerbong belakang Regional Express. memandang keluar, pinus hijau yang menjulang, dikanan-kirinya pepohonan yang tengah memerah dedaunannya. Menunggu angin musim dingin menggurkan perlahan.

Hari ini, kami berjalan menuju satu daerah lain di Jerman ini. Membagi ruang gerak, menghablur dalam embun yang mulai membeku. Seperti salju. Memandangi ladang kentang yang terhampar memadang didepan. Memotret jenak kecerian anak kecil dalam kereta yang didorong orangtuanya.

Gerbong ini milik kami. Hari minggu, tampak bukan hari untuk mereka beraktivitas. Atau karena telah tumpah dalam pesta semalam. Tanpa jeda terus memandang sekeliling. Nuansa yang tak bisa kujumpa di tanah air. Atau aku harus bersabar, dan berkata, belum bisa kujumpa.

Infrastruktur yang sedemikian berainergi dengan manajemen yang tertata apik. Membuat tak boleh ada keterlambatan. Teratur bukan main. Masih tanpa jeda, berada di gerbong belakang yang sudah menjadi milik kami.

Continued
Published with Blogger-droid v1.7.4

Senin, 24 Oktober 2011

Eiffel I'm in love with my bestfrien

wait n see for th posting yaa.. repot klo ditulis pke android. hee
Published with Blogger-droid v1.7.4

Sabtu, 08 Oktober 2011

#2 GA 88 : Soetta – Schippol

Ini adalah pengalaman pertama saya dan juga mayoritas dari kami, peserta pelatihan Intermediator Teknologi (#Intertek2011) Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK). Berkunjung kesalah satu negera maju di dunia tertutama dalam aplikasi inovasi-teknologi dalam Industri, Jerman. Jika 5 Oktober 2011 adalah tanggal paling bersejarah. Maka GA88 adalah pesawat yang paling bersejarah bagi 30 peserta dan 5 pendamping terbang dari Jakarta ke Amsterdam. Entah kenapa tidak langsung saja menuju Berlin, tetapi harus melalui Amsterdam. Kemungkinan maskapai Garuda tidak ada yang langsung ke Berlin. Tapi ga tau juga ding. Baiklah aku akan bercerita tentang perjalanan 18  Jam maraton dari Soekarno – Hatta, jakarta menuju Schippol, Amsterdam.
Kami tiba di bandara soetta terminal 2, Rabu 5 Oktober 2011 pukul 17.20 Wib. kemudian berbaris-baris berjejalan dengan kopor-kopor bawaan menuju gate E3 melewati pemeriksaan awal X ray, berjalan menuju petugas untuk diberikan tali pengikat tas yang akan dibagasikan. Berjalan menuju loket maskapai Garuda Indonesia menunjukan copian e-Ticket dan paspor, sementara kopor ditimbang untuk dibagasikan. Setelah membayar Airport Tax untuk perjalanan ke luar negeri Rp 150,000. Diberikan  kartu isian keberangkatan (nama, , tempat-tgl lahir, no paspor, tempat dan tangal pengeluar paspor)  dan boarding pass (urutan kursi di pesawat) serta bukti pengambilan bagasi. J
Setelah makan malam, hoka bento. Saya  menuju bagian imigrasi untuk mendapatkan stempel keberangkatan dan sholat maghrib-isya (jamak), sebelum solat saya ditelpon tante sruni yang sudah datang di gate E3 dekat loket Garuda. Membawa plastik besar yang berisi makanan kecil sebagai bekal. Pukul 19.20 kami harus bergegas untuk masuk ke lounge. Sebelumnya tetap dilakukan pemeriksaan x ray terhadap barang-barang yang dibawa ke kabin. Termasuk tas saya tak luput dan pemeriksaan itu. Dan alhasil, terjadi insiden kecil yang tak boleh diulang lagi. Pisau lipat ala swiss army yang saya taruh dibalik kain didalam saku tas kecil di dalam tas ransel masih saja terdeteksi. Terdapat dua opsi saat itu, di buang (baca : disita) atau dibagasikan. Opsi kedua yang dimaksud adalah memasukkan tas jinjing kedalam bagasi untuk ‘menyelamatkan’ pisau lipat itu. Itu artinya saya harus berlari ke pintu depan melewati pintu  bagian imigrasi dan ke loket penimbangan untuk dibagasikan. Demikian petugas jaga memnberi alternatif. Satu menit pertama saya berpikir. Kemudian setengah berlari menuju ke pintu depan tersebut. Tetapi dua menit kedua berikutnya.
“Buat apa saya berlari-bersusay payah-hanya karena pisau lipat itu. Huh.. buang aja. Alias hibahkan.”
Kemudian putar arah dan masuk ke pos penjagaan x-ray itu. Saya kira langsung saja bebas melenggang tanpa perlu memasukkan tas dan bawaan ke ban berjalan x ray itu. Ternyata diulang lagi. Kemudian tas di ambil setelah lewat ban berjalan dan pisau tersebut saya berikan saja ke petugas jaga.
anggap saja souvenir dari saya.heu”
Maju. Jalan. Masuk lounge gate E6. Menunjukkan paspor dan boarding pas ke petugas pintu masuk. Mencari tempat duduk. Dan menghalau nafas tadi. Huhu. Hampir saja. Jam menunjuk pukul 20.10 , masih ada waktu sekitar 20 menit untuk ‘Say Goodbye Indonesia’
 (to be continued)

*baru kali pertama gw ngopi dan ngenet di starbuck dan ini di Berlin :)

#1 kabar dari Berlin

Hari ini sabtu, 8 Oktober 2011. Saat aku memulai menulis jam di ponsel ku menunjuk 06.13 atau 11.13 wib. Perbedaan waktu Jakarta – Berlin 5 jam, (Berlin GMT+2). Hari ini adalah adalah hari ke-3 setiba kami dari perjalanan panjang pesawat dari jakarta menuju berlin pada 6 Oktober kemarin. Dari balik jendela kamar apartemen yang menghadap ke sisi jalan, gelap menyelimut dengan balutan suhu udara sekitar 9 – 13 derajat celcius. Oh iya, waktu subuh disini—hari ini—pukul 05.25, jadi wajar saja jika masih gelap menyelimut. Tapi tetap saja jam biologis tubuh tidak bisa dimanipulasi : laper. J Bawaan dari rumah, bengbeng hazelnut dan sukro dua kelinci habis sekali lahap.
Aparthementhaus 251
Aku ingin bercerita tentang bangunan bertingkat sepuluh ini yang akan menjadi tempat tinggal untuk 3 pekan pertama di Berlin ini. Apartemen yang saya tempati berada di lantai 5. Saya dan dua orang kawan : mas Dana (Pridana Nasution) dan mas Radit (Raditya Sunu ). Mas Dana adalah orang semarang asli, jangan salah yaa kata ‘Nasution’ di belakang namanya tidak menunjukkan identitas apapun soal marga batak atau sumatera utara J. Mungkin saja ayah-ibunya seneng betul dengan tokoh Jenderal bintang lima : A.H. Nasution. Tapi yasudahlah oleh si empunya nama, sudah  menjelaskan susah payah di awal pertemuan di Jakarta lalu. Dan mas Radit ini aseli Djogja.
 Mas Dana ini sudah berkeluarga alias sudah memiliki istri, dan kabarnya sedang mengandung usia 2-3 minggu. Oia, terdapat 4 dari 30 peserta pelatihan yang sudah menikah termasuk mas Dana, tiga lainnya: mas Eko (Eko Novianto), mas Dedi (Dedi Setiawan), dan mas Fikri (Fikri Amrullah Riva’i). mas Eko baru saja menikah 10 Juli 2011 lalu. mas Fikri dan mas Dedi pada 4 september 2011 lalu (berbarengan tapi tidak satu tempat, ya iyalaah). Kenapa saya menyebutkan siapa saja yang sudah menikah. Ini penting sodara-sodara. Karena terjadi kegalauan luar biasa bagi peserta lain yang masih jomblo (baca; belum merit) dan bagi yang 4 orang itu juga. Galau bagi para jomblowan/wati karena mupeng saat liat harubiru istri melepas sang suami di bandara Soetta kemarin. Dan Galau sekarang bagi sang suami karena kesulitan akses internet untuk ‘say hello, im okay in Berlin’.
Begitulah  apartemen kami tidak dilengkapi akses internet berupa wi-fi atau LAN. Konon, karena kami hanya menyewa satu b ulan. Karena umumnya untuk dapat akses berlangganan inet di dalam apartemen minimal menempati tiga bulan L. akses telepon?  Bisa saja sih, tapi perlu dicatat saat mas Dana menelepon sang istri di Semarang sana. Biaya panggilan satu menit mencapai 60 ribu rupiah atau sekitar 5 euro. Untuk sms bisa 4-9 ribu sekali kirim. Panggilan dan sms ini masih dengan operator Indonesia : Indosat/telkomsel dan dikenakan biaya roaming internasional, termasuk saat menerima panggilan dari Tanah Air sana.
Saya menempati  kamar 20881, lantai lima. Untuk mengaksesnya terdapat lift dan tangga. Untuk lift jangan harap dapat menjumpai lantai kami sekali langkah. Karena tombol yang tersedia hanya lantai E (lantai bawah), 3, 6, dan 9. Sehingga untuk ke lantai 5 dengan lift ini, silahkan tekan tombol 6 lalu keluar dan turun satu lantai dengan tangga menuju kamar kami. Begitu kamar dibuka, yang akan ditemui kali pertama adalah pintu besar tepat di depan pintu masuk apartemen, yang ternyata adalah pintu toilet/kamar mandi. Kemudian sebuah papan besar capstok untuk menggantunkan mantel/ jaket dan meja kecil di sisi kiri pintu masuk untuk menaruh sepatu/selop. Dan ruangan dapur dan kitchen set yang menawan disebelah kiri toilet. Seluruh ruangan dilapis karpet memberi kesan hangat.
Masuk ke arah kiri ada kamar besar yang sekarang ditempati mas Dana (sebenarnya kamar ini untuk dua orang, karena tersedia dua bed). Kamar ini menghadap jalan besar didepan apartemen dan terdapat balkon setelah daun jendala dibuka dengan sempurna. Sebelah kanan dari pintu masuk terdapat kamar mungil (inilah kamar ku). Kemudian disebelah ruang kamar ku terdapat ruang tengah untuk menonton TV dan atau ruang baca. Kemudian disisi kiri dari ruang tengah itu terdapat kamar skala menengah yang ditempati mas Radit. Jadi diurutkan dari terbesar – mungil adalah : kamar mas Dana, mas Radit, dan saya.
Suasana kamarnya sederhana  terdapat sebuah alamari besar dua pintu seinggi kira-kira 210 cm. Pintu pertama berisi empat sekat yang dipasang horisontal membentuk lima ruang yang bisa diisi untuk pakaian atau perlengkapan yang dibawa. Kemudian pintu kedua untuk pakain atau jaket yang menggantung. Perlengkapan lain yang ada di kamar adalah sofa yang dapat disesuaikan menjadi bed (lihat gambar). Pada sisi kanan setelah pintu masuk kamar terdapat meja yang bisa ditempati untuk buku-buku dan tas. Jendela besar di sisi depan kamar menghadap jalan masuk ke apartemen ini. Dan ada lampu kecil untuk malam dan sebuah penghangat ruangan yang dapat disetel dengan kenop putar berangka 1 sd 9 untuk menyesuaikannya. Aku tergagum-gagum dengan mekanisme membuka jendela apartemen ini. Sebuah mekanisme yang mungkin tidak ada di Indonesia sana. Jadi, posisi kunci pemutar berupa pemutar seperti keran pembuka yang dapat dibuka (seperti gambar)
Toilet disini membuat aku uring-uringan sendiri.Lantai toilet tidak tersedia saluran pembuangan air, rupanya toilet disini didesain untuk kering. Alhasil jika basah jadi becek-becekan, namun sudah disediakan sebuah sekop untuk mngantisipasinya. Tapi tetep aja rempong. Sebuah toilet duduk, wastafel dan jacuzzi (bathtub) dengan shower dan masing-masing memiliki keran air dingin panas yang dapat disesuaikan. Antara bathtub dengan toilet duduk dan wastafel terdapat pembatas dari gorden anti air untuk mengantisipasi air berceceran di lantai toilet yang didesain tetap kering itu. Alhasil jka ingin mandi langkah terbaik adalah berendam di bathtub tersebut dan atau ber-shower duduk.  
Dapur dengan kitchen set yang menawan nan fungsional ini membuat aku kesengsem bergaya modern tapi terlihat sederhana. Sebuah kompor besar empat api dan pemanggang menyatu dibadan kompor tersebut. Kemudian almari yang disusun untuk menyimpan berbagai keperluan dibagian bawah dan atas. Keran air untuk mencuci piring juga dipasang dua (air dingin dan hangat). Oia, standar air ledeng/pipa disini sudah bisa digunakan untuk minum (tidak perlu dimasak lagi). Bahkan saya, untuk menghemat waktu kemarin menyeduh kopi dengan keran yang mengalirkan air hangat, yang ternyata tidak melarutkan kopi (kurang panas). Walaupun ada kompor tapi tidak semudah di tanah air. Untuk menyalakkannya tinggal putar dan jeklek, api pun muncul. Disini diperlukan sebuah pematik tersendiri.  sementara kenop tetap diputar untuk mengeluarkan gas sambil pematikak didekatkan diantarnya. Begitulah kondisi apatmen kami untuk kami tinggali hingga akhir oktober nanti. Auf WiederhĂ–ren!