Tampilkan postingan dengan label indonesia kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia kita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Catatan Kunjungan Bapak BJ Habibie ke Garuda Indonesia (oleh : Capt Novianto Herupratomo)

postingan ini saya dapatkan dari kawan didalam milist yang juga merupakan tulisan catatan kegiatan seorang penerbang yang hadir pada saat kunjungan Bapak Habibie, berikut tulisan tersebut (sesuai naskah aslinya dalam email)
---------------------------------------------------


KUNJUNGAN BAPAK BJ HABIBIE
Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo. Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap. Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).
Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini? 

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................
Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.................
“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

 Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.

Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............
Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa................

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?
Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”
Pak Habibie menghela nafas.......................


Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................
N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.
Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....................
“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
- Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten
- C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis
- D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!
Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik.............organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..................”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................
“Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.
Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

“Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu......... Ainun......... Ainun ................. Ainun ..............saya mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
2.     Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...............
3.  Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga............................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................


Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya.
Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.
Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif...................”
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.


Jakarta, 12 Januari 2012


Salam,

 Capt. Novianto Herupratomo


This email and any attachments are confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the information contained in this email or any attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., do not accept liability for damage caused by this email or any attachments and may monitor email traffic.

Selasa, 30 November 2010

Aku Orang Indonesia

Aku Orang Indonesia : tidak kurang tidak lebih
Untuk negeriku Indonesia, 17 Agustus 2010 :

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri.
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan.
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami.
Sejak lahir sampai dewasa ini.
Jadi sangat tepergantung pada budaya.
Meminjam uang ke mancanegara.
Sudah satu keturunan jangka waktunya.
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula.
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni.
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi.
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini.
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi.
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia.
Kita gadaikan sikap bersahaja kita.
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta.
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka.
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita.
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia.
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama.
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia.
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi.
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri.
Sambil kepala kita dimakan begini.
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti.
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi.
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni.
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama.
Menggigit dan mengunyah teratur berirama.

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi.
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini.
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam.
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang.
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang.
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya.
Meminjam kepeng ke mancanegara.
Dari membuat peniti dua senti.
Sampai membangun kilang gas bumi.
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi.
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi.
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri.
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis.
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis.
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa.
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa.
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya.
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami.
Kalian lah yang membuat kami jadi begini.
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi.
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini.

Merdeka! /
Belum /

Taufik Ismail (1998)

Top of Form
Bottom of Form


Kamis, 25 November 2010

Mudik bersama Kereta Api


Sudah menjadi pemandangan umum. Berdesakan berupaya merangsek masuk ke dalam kereta Api. Meskipun hanya salah satu kaki terjejak dan kaki lainnya menjuntai. Karena hampir-hampir sudah tidak mampu lagi memasukkan badan. Berdiri berjam-berjam sudah hal lumrah. Dan memang beginilah rasanya berada  di kereta Api Indonesia terutama kelas Ekonomi. Alih-alih pemerintah menambah jumlah rangkaian dalam kereta bantuan mudik setiap tahunnya. Tetap saja ratusan bahkan ribuan penumpang tetap berdesakan.

Laporan arus balik yang terpantau di media televisi mempertontonkan seorang ibu dengan balita di gendongnya memaksa masuk kedalam gerbong yang sudah penuh sesak di stasiun Purwokerto (16/9). Seorang nenek lansia yang terekam akhirnya memilih keluar dari gerbong dan memilih menunggu kereta selanjutnya. Karena pengab dan tidak kuat untuk terus berdiri hingga Jakarta. Nampaknya tidak harus menunggu mudik untuk melihat fenomena tersebut.

Saya sebagai penumpang setia Kereta Api pun menjumpai hal yang sama. Bersama kereta jurusan Jakarta-Rangkasbitung. Sebagai salah satu jalur kereta Api yang padat penumpang, hampir setiap hari penumpang berdesakan hanya untuk berpindahtempat dari satu stasiun ke stasiun yang dituju. Bukan hal aneh jika atap dipenuhi oleh penumpang, meskipun sudah banyak larangan bahkan duri-duri kawat sempat saya lihat di atas gerbong untuk menyulitkan penumpang yang nekat naik.

Hakikatnya kegiatan mudik, merupakan tradisi yang sudah menjadi kebiasaan warga urban untuk berbondong-bondong kembali ke rumah. Kembali ke desa untuk berbagi kebahagiaan merayakan hari raya. Mereka yang telah lama merantau baik untuk kegiatan perniagaan mencari nafkah maupun seperti saya yang tengah menuntut ilmu. Wajib untuk kembali ke kampung, kembali me-recharge diri bersama keluarga tercinta. Tampaknya energi itulah yang mendorong exodus besar-besaran manusia dalam ritual mudik.

Menjadi warga urban sekaligus pengguna tetap kereta Api Indonesia. Bagi saya, kelumrahan tersebut tidak bisa dibiarkan berlanjut. Manajemen atau tata kelola yang profesional selayaknya sudah dapat diterapkan di perkeratapian Indonesia. Sebagai angkutan massal dan murah, jelas kereta api sulit untuk digantikan. Bahkan negara semaju Jepang, menggunakan kereta Api sebagai moda transportasi utama. Sehingga tak heran, jika gerbong rangkaian jepang sering pula terlihat ada di rangkaian kereta api Indonesia terutama jabodetabek. Jika di jepang gerbong-gerbong tersebut sudah—maaf—tidak layak pakai. Maka oleh PT.KAI disulap menjadi kereta bisnis dan eksekutif.
Saya pernah merasakan naik kereta api kelas Ekonomi dari Manggarai hingga Jogjakarta. Meskipun tidak dalam kondisi mudik lebaran. Tetap saja masih banyak penumpang yang rela berdiri berjam-jam diatas rangkaian. Memang benar  ‘jika ingin duduk, naik nya bukan ekonomi atuh’. Dengan harga karcis murah, jangan harap dalam pelayanan baik. Tetapi untuk kasus nenek yang harus keluar rangkaian dan Ibu dengan balita yang tidak bisa merangsek masuk. Apakah mereka tidak mendatkan perhatian yang serius untuk terus dan terus berbenah.
Pada akhirnya semua pihak dan manajemen kereta Api sudah harus menapak pedal gas akselerasi untuk pelayanan dan infrastruktur yang baik. Terutama untuk tren mudik ditahun tahun berikutnya. Jika saja angkutan publik seperti moda kereta api ini ter manage dengan baik, bukan tidak mungkin pengguna angkuta pribadi akan bergeser dan melirik angkutan massal yang lebih efektif. Mungkin saja dapat mereduksi kemacetan yang tidak terkendali pada arus puncak mudik H-2 atau H-3 sebelum lebaran atau H+5 dan H+6 setelah lebaran sebagai arus balik,


Kini, poyek yang tengah terlihat perkembangan yang sangat baik bagi saya diantaranya pembangunan Double Track dari Serpong hingga parung panjang. Instalasi listrik untuk menggerakkan KRL dari Serpong hingga Maja dan perapihan struktur peron dan bangunan fisik stasiun di jalur Jakarta – rangkasbitung. Serta pemberlakuan gernbong khusus wanita untuk KRL AC di Jabodetabek. Selamat bertugas kepada jajaran PT.KAI. kami menantikan akselerasi yang lebih baik kedepannya. 

tigaraksa, 17 / 9/ 2010

Rabu, 10 November 2010

Gugusan kepulauan bernama 'Nusantara'

Gugusan kepulauan itu adalah wilayah dengan luas darat dua juta kilometer persegi, hampir tiga kali lebih besar dibandingkan negara bagian Texas. Tapi kalau kita menghitung luasnya lautan diantara lautan diantara lautan diantara pulau-pulau itu, wilayah itu jauh lebih besar lagi. Dari barat ke timur, yakni dari titik barat Sumatera ke perbatasan Australia di Papua, jaraknya hampir 5.000 km. Dalam geografi Amerika, ini sama dengan jarak dari San Fransisco ke kepulaun Bermuda. Dari utara ke selatan, lebar  permukaan  darat-dan-laut ini sekitar 2.000 km, atau, sekali lagi dibandingkan dengan dunia belahan barat, jarak yang sama dengan Buffalo, New York, ke Key West, Florida. Jadi total wilayah darat dan laut kepulauan ini mencapai 10 juta kilometer persegi. Ini dua setengah juta kilometer persegi lebih luas dibandingkan tanah yang membentuk Amerika Serikat kontinental tanpa Alaska.


Diujung barat  kepuluan itu terletak Sumatera, memanjang dari barat laut ke tenggara, dan luasnya kira-kira sama dengan gabungan negara Virginia, Carolina utara dan selatan, dan Georgia. Pantai barat Sumatera berbukit-bukit. Bagian timur terdiri atas dataran yang, mendekati laut, berubah jadi tanah basah dan rawa-rawa. Disebelah tenggara Sumatera, terpisah oleh selat sunda yang sempit, yang dibeberapa  titik hanya selebar 30 kilometer, terletak pulau  Jawa, yang luasnya sama dengan negara bagian New York dan memanjang hampir 1.200 kilometer dari barat ke timur. Disebelah utara Jawa dan sebelah timur Sumatera terletak Kalimantan. Sedikit lebih besar dari Texas. Sementara Jawa sepenuhnya terbudidayakan, sembilan per sepuluh Kalimantan tertutup hutan. Diujung timur kepulauan ini, papua menjadi wilayah transisi di dunia Australia. Pulau ini terbesar kedua di dunia—pertama di pegang oleh Greenland—tapi juga sebagai salah satu wilayah paling kurang terbangun di bumi. Antara Kalimantan dan Papua tersebat gugusan pulau-pulau kecil Maluku yang terkenal sebagai kepulauan rempah-rempah. Disebalah selatan gugus pulau ini terletak kepulauan Sunda kecil yang tersebar antara Jawa dan benua Australia.

Gugusan kepulauan itu adalah salah satu wilayah paling vulkanik di dunia. Dari sumatera bagian barat laut sampai Jawa dan kepulauan Sunda lalu naik lewat Maluku ke arah Filipina, gunung-gunung bersambung-menyambung membentuk garis tak terputus. Letusan gunung dan gempa bumi begitu sering terjadi sehingga di beberapa darerah menjadi unsur penentu gaya arsitektur. Institut seismografi Jakarta mencatat dua tiga gempa kecil sehari. Gunung berapi yang paling terkenal ialah Krakatau, yang sebelum 1883 merupakan pulau setinggi 600 meter dan kemudian hancur oleh letusan yang menyemburkan air dan uap yang tak terkira. Letusan 1883 begitu dahsyat senhingga debu yang disemburkan mengelilingi dunia tiga kali sebelum mendarat.

Di beberapa daerah, khususnya yang dekat dengan khatulistiwa seperti Sumatera bagian barat, Kalimantan bagian tengah, dan Papua bagian tengah, jumlah curah hujan setahun lebih dari 400 sentimeter. Dipulau-pulau bagian barat hampir tiada hari tanpa hujan, sementara Bogor, dekat jakarta, bisa menyombong mengalamai badai guntur terbanyak didunia, 322 kali setahun.

Hampir tidak ada perbedaan musim. “musim hujan” dan “musim panas” adalah kata-kata tanpa arti di kepulauan itu. Tapi, bahkan di dataran rendah suhu tidak pernah lebih panas daripada musim panas di Middle West Amerika Serikat. Sejak 1886 suhu tercatat di Jakarta, stasiun meteorologis tertua di kawasan tropika. Tidak pernah selama 90 tahun itu suhu naik diatas 35 derajat, yang berarti 13 derajat lebih rendah dari suhu tertinggi yang tercatat di Idaho. Disisi lain suhu tidak pernah turun dari 18 derajat, yang sama dengan suhu musim panas rata-rata di Portland, Oregon, dan Maine. Tapi kelembaban, khususnya pada malam hari, ditambah dengan keadaan tanpa angin, menimbulkan rasa panas yang tak tertahankan. Kemonotonan iklim, khususnya dibagian barat, dan rasa panas yang tak hilang-hilang pada malam hari tersebut, sangat memberatkan.

Sebagian besar sejarah kepualaun itu, walaupun tidak semuanya adalah sejarah Jawa. Sumatera juga pernah punya peran penting dalam sejarah, khususnya bagian  timur dan utaranya. Namun pedalaman Kalimantan dan Sulawesi dapat dibilang tidak punya sejarah sama sekali, karena hanya wilayah pantai yang terpengaruh jawa dan Sumatera. Maluku menarik perhatian seuruh dunia sejak beberapa abad tapi sekarang berperan pasif.


Istilah yang diberikan untuk kepuluan itu adalah Hindia  (timur) yang dipakai untuk menyebut seluruh komples yang kini membentuk Republik Indonesia. Nama “Indonesia”, yang berarti, tentu saja, “pulau-pulau India” diberikan kepada kepulauan ini oleh seorang etnolog Jerman, dan telah dipakai sejak 1884. Awalnya Indonesia adalah nama geografis untuk menyebut semua wilayah (kepulauan) antara Australia dan Asia, termasuk Filipina. Gerakan nasionalis Indonesia mengambil dan membuatnya menjadi nama resmi untuk republik pada tahun 1945 dan 1949, dengan menyisihkan istilah yang tidak terkenal “Nusantara” yang termasyhur di masa-masa terdahulu.


Diadaptasi dari :
Nusantara: Sejarah Indonesia. Bernard HM. Vlekke, 1958


Sabtu, 06 November 2010

Debu Abu Vulkanik

Baru saja SMS masuk dengan pesan seperti ini:

" Ada info penting. Abu vulkanik komposisinya SiO2/silika, mirip bahan industri kaca & merupakan glass hard yang sangat halus, tetapi jika dilihat dengan mikroskop tepi & ujungnya runcing. Jika terhiruo akan merobek jaringan paru2. Jika terkena mata bisa merusak..hati2 lindungi mata dan hidung kita.silakan disebarkan karena peduli. Dan hujan abu sudah mencapai bandung"

kemudian SMS dengan pesan yang senada menambahkan....
"...debu vulkanik sudah sampai Ciawi, Bogor. Harap berhati-hati"

sungguh demikian dahsyat bencana negeri ini..

Pray For Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini. Indonesia dirundung duka lara. Ini soal  tragedi kemanusiaan dan kepedulian. Bukan lagi soal siapa, ada apa, mengapa." Ia bukan jawa, bukan islam, bukan saudara saya!" Tapi ia, anak kecil yang kakinya tak bisa tergerak karena bara panas. Kakek tua itu tersengal nafasnya. Ibu dengan balita itu terjebak diantara ratusan manusia lain yang juga sibuk berlarian. Bapak yang kelihangan seluruh keluarganya. Sesegukan sudah tak berarti. Karena untuk bernafas dengan ringan sulitnya diantara jutaan partikel debu vulkanik yang mengudara. Mereka adalah korban dari bencana negeri ini. Gunung Merapi.

"Doa dengan harapan akan negeri ini kembali bangkit dan tangguh. Menjadi senjata kami diantara lamunan nestapa atas kepergian ibunda, ayah, kakak, adik kami. Bahkan kami tak lagi ada rumah untuk ditinggali dan Ya Allah...semoga di dadaku masih ada iman sebagai bekalku kembali pada Mu"









sumber gambar dan berita disini

Kamis, 28 Oktober 2010

Sumpah Pemuda dan Bahasa Indonesia

Sebuah tulisan opini menarik dari seorang tokoh negeri ini. Gus Solah, begitu sapaan akrab pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng, Jawa Timur. Kompas, hari ini. Dengan judul "Bangga berbahasa Indonesia". Kolom Opini kompas hari ini dipenuhi gagasan memperingati 82 tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Seperti diketahui, gagasan utama yang lahir dalam sumpah pemuda adalah pengakuan berbangsa, bertanah air, dan berbahasa, Indonesia.

kembali dalam opini yang ditulis Salahudin Wahid dalam Kompas hari ini. Bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara ini mulai luntur. Bukan karena arus globalisasi yang terlalu membumbung sebagai kambing hitam. gus solah, mengawali tulisannya dengan deskripsi kunjungan pelajar Australia yang datang ke pesantren-nya. Berdialog dengan bahasa Indonesia, tentu saja dengan logat yang amat berbeda. Minat serius pelajar Australian untuk mempelajari bahasa Indonesia, menempati tertinggi ketiga setelah bahasa Jepang dan China. Mereka (pelajar Australia) berpendapat: Indonesia adalah negara besar dengan potensi besar dimasa depan. Sehingga mempelajari bahasa Indonesia adalah salah satu modal utama untuk mengenal lebih dalam Indonesia.

Gus Solah menulis hal lain. Restorasi Meiji, sebagai tonggak bersejarah kebangkita Jepang yang dimulai pada tahun 1898. Dimulai dari cinta dan bangga pada bahasa japang. Sehingga restorasi berjalan stabil. Bahkan, pasca ambruknya geopolitik jepang pasca perang dunia kedunia. Kebangkitan itu dimulai dari buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa Jepang. tak ayal, angka pertumbuhan tak tanggung mencapai sepuluh persen.
Dua hal diatas seperti otokritik kepada bangsa ini akan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini bukan soal menampik bahasa lain, bung!

sering kita dengar, lihat, saksikan bapak-bapak pejabat kita, bahkan presiden SBY sekalipun gemar untuk mempraktikkan kosakata yang terlihat megah dan elok namun serasa jauh dari akal pikir rakyat.Seperti disparitas harga, mitigasi bencana, reshuffle kabinet. tidak cukup dikalangan pejabat teras di atas. Pelajar dan anak sekolah dasar sudah mengenal istilah seperti alay dan lebay. Bahkan dengan pendapat  "biar disebut gaool getoo". Saya rasa, secara pribadi. Tulisan opini Gus Solah ini secara khusus merefleksikan semangat Sumpah pemuda yang dipekikkan 82 tahun silam:Diantara penjagaan  ketat tentara kolonial dan desakan untuk merdeka. Selamat sumpah pemuda: Mari berbahasa yang baik, benar, dan santun!

Jumat, 17 September 2010

Prophetic Mentality dan Gerakan Anti Korupsi (bagian 2 dari 2)

Prophetic Mentality

Mental profetik adalah nilai-nilai embodied  pada ciri kenabian. Nabi bukan mahluk langitan, ia datang dan turut merasakan penderitaan di masyarakat. Cerdas dalam menjawab pertanyaan, menjadi penengah atas sengketa kesukuan, mendapat kepercayaan penuh untuk menjaga harta benda. Kehadirannya adalah teladan, itulah yang diharapkan muncul juga dari masyarakat saat ini.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.  (Qs. At-taubah : 128)

Kehadiran nabi di tengah masyarakat sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan di jalan Tuhannya. Hal ini sejalan dalam berbagai ajaran di dalam kitab suci setiap agama. Bahwa tidak ada yang menentang bahwa kedatangan nabi dan rasul adalah sebagai pembawa risalah kebenaran.

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-Jumu’ah [62] : 2)

Cerminan masyarakat yang telah melekat mental profetik adalah saat hijrah—Kaum  muhajirin berbondong-bondong meninggalkan mekkah  ke medinah. Dan disambut dengan sukacita penuh kehangatan olah kaum anshar—ya, masyarakat medinah (madani) merupakan model masyarakat yang telah  mendapatkan pancaran propethic mentality. Satu individu dan lainnya adalah bagian yang tak terpisahkan.  Konstitusi medinah[1] yang dibuat oleh nabi saat itu, menjadi pengikat tidak saja untuk  kalangan islam  tetapi  kaum yahudi. Inilah fakta kenabian.

Salah saatu sifat kenabian lain adalah sifat zuhud. Banyak yang salah kaprah tentang zuhud dunia yuang dicontohkan nabi.  Zuhud bukanlah melepaskan dan mencampakkan dunia dari tangan sama sekali, lalu duduk denga tangan hampa. Nabi sendiri tidaklah miskin, lihatlah shirahnya,pelajari dengan seksama. Setiap tahun nabi berkurban tidak dengan satu atau dua unta, tetapi puluhan jumlahnya. 
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.  Qs.Thahaa [20]  : 131.

Zuhud adalah membuang dunia dari hati justu saat dunia sudah dalam genggaman. Demikian halnya para Khalifah Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka zuhud ketika semua khazanah harta berada dalam genggamannya. Ada nikmat yang jauh lebih baik dan kekal daripada sekedar gelimangan harta di dunia ini. Demikianlah seharusnya mental profetik yang harus kita bangun. Menjadi zuhud atas pilihan bukan keterpaksaan keadaan.
Etos kerja dan Kepedulian adalah hikmah mengapa Allah senantiasa memerintahkan  mendirikan Sholat (Aqiymuu  ash-sholah)  dan Zakat (wa atu al-zakat) dalam satu lekatan kalimat untuk memohon kepada Allah kebaikan dalam ibadah vertikal dan pengamalan kabaikan dalam ibadah horizontal. Perintah berzakat merupakan anjuran kepada segenap manusia untuk menjadi pekerja keras untuk dapat memberi atas hasil kerja tersebut.

 Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-bawarah [2] ; 110)

Demikian semangat pengamalan nilai kenabaian (prophetic value) diatas seharusnya  mendasari langkah gerak kita. Terutama dalam kaitannya kita dalam upaya partisipasi  masyarakat dalam gerakan antikorupsi di negeri ini. Nilai tersebut antara lain: tanggung jawab, disiplin, jujur, sederhana, mandiri, adil, pekerja keras dan peduli. Tentu masih banyak nilai kebaikan yang dipancarkan nabi untuk kita ambil suri teladan.

Partisipasi
Good governance tidak terbatas pada bagaimana pemerintah menjalankan wewenangnya, tetapi lebih daripada itu, adalah bagaimana upaya agar  masyarakat dapat berpartisipasi dan mengontrol pemerintah dalam menjalankan wewenangnya dengan baik (accountable).

Partisipasi masyarakat yang tercermin dalam peranan individu tidak terlepas dalam mental berpikir, berucap, dan bertindak yang menjadi budaya di suatu komunitas tertentu. Tetapi budaya tersebut akan menjadi satu nilai universal jika dihadapkan dalam satu pandangan agama sebagai pedoman hidup. Dan pandangan agama merupakan perintah dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci dan melalui perkataan, pemikiran, dan perbuatan nabi yang lahir dari komunitas jahiliyah menuju terang benderang.

Maka kata kunci dalam hal ini adalah attitude. Seperti gerakan ikhwan di Mesir. Bahwa untuk membangun gerakan me-negara dimulai dari kefahaman dan kualitas individu. Terhadap satu semangat spiritual dan nasioanlisme. Semangat meneladani role model atas nabi. Semangat membangun mental profetik untuk membangun gerakan anti korupsi di masyarakat. Semoga!



[2] Konstitusi (Piagam) Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah. 

tulisan ini dikirmkan dalam komepetisi Essai Mahasiswa [KEM] 2010, kategori : budaya. (doakan yah semoga masuk 20 besar)t