Aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
TENTANG MATAHARI
Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Januari 2011
Selasa, 30 November 2010
Aku Orang Indonesia
Aku Orang Indonesia : tidak kurang tidak lebih
Untuk negeriku Indonesia, 17 Agustus 2010 :
Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri.
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan.
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami.
Sejak lahir sampai dewasa ini.
Jadi sangat tepergantung pada budaya.
Meminjam uang ke mancanegara.
Sudah satu keturunan jangka waktunya.
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula.
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni.
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi.
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini.
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi.
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia.
Kita gadaikan sikap bersahaja kita.
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta.
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka.
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita.
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia.
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama.
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia.
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi.
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri.
Sambil kepala kita dimakan begini.
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti.
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi.
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni.
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama.
Menggigit dan mengunyah teratur berirama.
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi.
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini.
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam.
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang.
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang.
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya.
Meminjam kepeng ke mancanegara.
Dari membuat peniti dua senti.
Sampai membangun kilang gas bumi.
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi.
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi.
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri.
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis.
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis.
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa.
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa.
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya.
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami.
Kalian lah yang membuat kami jadi begini.
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi.
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini.
Merdeka! /
Belum /
Taufik Ismail (1998)
Top of Form
Bottom of Form
Langganan:
Postingan (Atom)