Tampilkan postingan dengan label mozaik32. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mozaik32. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Holiday Camp : Ranu Kumbolo

Hi sobat muda! Kali ini gue mo posting perjalanan 3 hari 2 malam ke semeru (tapi blm sampe puncaknya) baru di kakinya aja. Next agenda oktober nanti, semoga sempat. Eniwei, sesuai judul postingan ini "Holiday Camp" alias kemping liburan. Liburan anak sekolah dan mahasiswa. Makanya eventnya juni-juli menyesuaikan agenda liburan anak sekolah. Event ini diselenggarakan sama anak2 PAS (Pecinta Alam Semeru). Dan foto yg gue posting di atas adalah Ranu Kumbolo, danau diatas gunung, 2400 mdpl. Untuk dapetin suasana kereen kya foto diatas emang gak mudah. Ada jalan terjal berliku mendaki dan berdebu. Saya mo cerita agak panjaang. Jadi akan ada beberapa postingan untuk menggambarkan suasana holiday camp itu. Stay tune y sobat muda!


Senduro - Rani Pani

Jumat, 29 Juni 2012. Suasana pagi itu mendung. Pukul 07.00 mnrt agenda nya sih kudu dah ngumpul di pasar agro, Senduro, Lumajang. Sesampai di pasar Agro. Saya, uswah, dymas, phyto. Tiga lainnya asli lumajang. Tapi hanya phyto aja yg pernah ke kumbolo tahun sebelumnya.

Baru sekitar pk. 07.20 baru ramai anak2 yg mo ikutan trip kumbolo. Dilihat dr kaos2nya mereka anak2 Smp-Sma sebagian anak Pramuka. Karena dpt kabar bakal ngaret. Kita sempetin mampir ke Babebo. Sejenis distro buat jualan second hand kaos, jaket, jeans dll. saya nyari celana pelatihan (baca:training). Buat jaga2 klo suhu disana makin ekstrim. Kabar terakhir seminggu lalu minus dua.
Bener aja, jam 8.20 ada 3 truk yg datang ke pasar agro senduro. Moda transportasi yg bakal angkut peserta hingga Ranu Pani.

Rani Pani adalah titik mulai pendakian ke ranu kumbolo. Ada dua alternatif jalan ke Ranu Pani. Pertama via Tumpang, Malang, dan biasanya lebih dikenal jalan dari sini. Karena akses jalan dan moda transportasi tersedia. Nah yg kedua via senduro, Lumajang. karena memang kordinasi event ini oleh anak2 PA Semeru Senduro-Lumajang. Sebenernya jauhnya sama aja sih 2-2,5 jam perjalanan. Tapi senduro kurang dikenal sebagai titik ke ranu pani. Karena akses dan moda transport kurang mendukung sepertinya.

Dua jam kami tempuh hingga Ranu Pani. Melewati desa Burno, Jalan berliku naik turun, pepohon pinus di kiri kanan, dan lebar jalannya gak cukup buat dua arah. Alias kudu ada yg ngalah klo berpapasan. Pk 10.50 sampai di lokasi Ranu Pani. Suhu udara mulai dingin adem dan baru kerasa pas ambil air wudhu buat sholat Jumat. Brrr, dah kaya es balok di cemplungin.

Proses registrasi berlangsung satu jam lebih. Ngumpulin surat keterangan sehat, fotokopi identitas dan retribusi daerah. Klo g salah Rp 5000/orang nya. Pendaftaran sdh di urus temen2 PAS. Ini lah salah satu enaknya kegiatan yg dikordinir. Bayar Rp. 50rebu dah dpt Kaos + angkutan senduro-ranu pani PP.

Pk. 12.30 usai jumatan sebagian peserta putera. Langsung bersiap untuk mendaki. Matahari saat itu lagi TOP hangatnya. Cuman ga sepanas di surabaya atau ibukota. Terik tapi kelembaban sekitar 20-25% dengan suhu 20-22C.

Masing-masing peserta sudah siap dengan carrier di punggungnya. Saya pun demikian. Sekitar 20 kilo ada kali. Isinya macem2. Tenda, sleeping bag, jaket, sweater, kaos, dan bahan panganan. Gue dah baca2 terutama liat di ekspedisi cincin api Kompas. Yg juga pernah ke semeru. Normalnya jarak Ranu Pani- Ranu Kumbolo bisa ditempuh 4 jam perjalanan. Dan saya pun menargetkan demikian.

Langkah demi langkah. Mendaki. Berliku. Jalan setapak hanya untk satu orang. Tidak boleh saling mendahului atau kalau berpapasan dua arah. Harus ada yg berhenti menepi. Sepanjang rute ranu pani-ranu kumbolo ada empat pos (normalnya ditempuh 50-60 mnit jarak tiap posnya). Baru sekitar 80 menit perjalanan kita dapati pos 1 Semacam bangunan mirip pos ronda untk duduk-duduk Gue dan tiga temen (satu group) mulai gelar matras dan bekel makan siang. Pk. 14.30 peserta mulai jalan lagi. Sepanjang jalan pandangan lebih diarahkan ke bawah drpada lurus kedepan. Lantaran jalannya berpasir dan sisi kiri jurang. Kalo diperhatikan saksama jalan setapak hingga pos 1 ini di paving blok. Ngebayangin the kuliers ngangkut2 batu paving, semen, pasir. Keren abis

Peehitungan saya bukan lagi jarak tempuh dalam hitungan meter. Entah sudah berapa kilo hingga pos 3. Saat itu sudah pk. 17.00 dan angin semilir angin dikejauhan mirip suara kereta melintas. Suhupun drastis menurun kira2 suhu AC minimal lah. Dan guepun yg awal berangkat cuma pake kaos. Mulai membuka ransel untuk ambil sweater dan sarung tangan. Selama lewatin pos 1 hingga pos 3. Jalanan masih lumayan datar, kemiringan paling tidak 7-12o. Setelah pos tiga, siap-siap dengan kemiringan sd 15-17o. Benar-benar mendaki bukit. Gak lama. Hitungan gue 15 menit. Setelah itu. Kita dapati hamparan awan. Subhallah keren abis. Awan-awan di kejauhan sana seperti dibawah kaki. Diujung lainnya tampak gagah mahameru dan pepasirnya yg buat kami terus melangkah. Kegusaran mulai singgah. Lantaran sang Ranu belum juga tampak padahal sudah 5 jam perjalanan.

Pk. 17.20 Mulai gelap, pencahayaan hanya melalui senter-senter yg kami bawa dan berkas cahaya rembulan. Rembulan setengah ini bak lampu alam yg cukup menerangi jalan setapak kami. Pendakian berangsur berganti menurun. Diantara suasa gelap dan menurun. Tingkar risiko lbih tinggi lagi. Lantaran jalanan berpasir dan rentan terpeleset.

Dan, berkas cahaya rembulan memantul oleh air. Itulah ranu yg dicari. Tiba di pos empat pk. 17.40 meskipun ranu sudah terlihat sepelemparan batu. Tapi bukan disini tempat camp nya. Jelas panitia. Padahal punggung, betis, dengkul dah bukan maen ngilunya. Pengen segera nge camp. Jalan kembali, kali ini kita melewati pinggir ranu yang berceruk. Di depan sana sudah menanti bukit yg akan didaki. Tujuan kita adalag melintas sisi sebelah ranu yang menagarah ke Barat. Di kejauhan sudah terlihat lampu berkilapan. Rupanya sudah banyak yg ngecamp. Melewati bukit terakhir ini pun perlu ekstra hati-hati. Lantaran dibawah adalah ranu. Suhu udara saat itu mungkin 13-15c. Ditambah angin dari celah gunung.

'Selamat Datang di Ranu Kumbolo 2400 mdpl."

Tulisan dipapan menyambut kami. Ini toh destinasi 6,5 jam perjalanan kami. Danau diatas gunung lebih luas 5-10x ranu pani di awal tadi.
Pk. 18.30 tiba di lokasi. Tenda mulai didirikan. Api mulai dinyalakan dr kompor portable yg kita bawa menghangatkan badan sekaligus menyiapkan makan malam sekedarnya yg bisa dimasak. Apalagi kalo bukan mie instan :)

Pk. 19.30 suhu udara benar-benar tidak bersahabat diluar tenda. Bahkan menyentuh air ranu pun enggan. Bertayamum untuk Sholat djama isya - maghrib di dalam tenda. Kaos kaki berlapis dua, sweater berlapis, dan sleeping bag pun digelar bersiap hadapi suhi ekstrim yg kabarya bisa mancapai minus di tengaj malam.


Bersambung
Published with Blogger-droid v1.7.4

Selasa, 10 Januari 2012

Wonocolo gang modim

31 desember 2011, setahun yg lalu :-P saya resmi pindah kosan dari pengungsian di Rungkut Asri Utara. Lebih tepatnya menempati rumah kawan, M.Rifan, yg katanya sudah dua tahun dibangun tapi belum ditempati. Kata ayahya bangunan itu untuk mba nya ( sudah menikah).

Di depan rumah ini terhampar halaman luas, yang rencana kedepannya akan dibuat bangunan, kata ayah rifan. Bangunan depan dan menyatu dengan bangunan yg ada saat ini. Pantas saja sudah teronggok batu batu gunung khas untuk pondasi dan coran didekat pagar masuk. Juga ada genting genting merah yg tersusun menumpuk, dibiarkan kehujanan tanpa terpal.

Memang rada unik sih bangunan yg saya tempati sebagai tempat berbaring dan menggalau *eh. Pasalnya begitu masuk. Didepan, dua kamar mandi/WC berlokasi bersebelahan, sukuran 3x2m. Berbentuk letter dari luar. Dua didepan berupa WC tadi dan tiga disisi lain adalah kamar-kamar berukuran 3x3m. Dan kamar yang saya tempati berada di ujung paling kiri dari bangunan ini.

Sebenarnya ada slot kecil berupa meja beton yg dipasang letter L di siku antara kamar mandi dan kamar ujung kanan yang bisa dipakai untuk dapur. Untuk meletakkan kompor dan rupa perlengkapan dapur lainnya. Tapi untuk saat ini dibiarkan kosong saja. Selain saya biasa untuk menaroh satu mangkuk, dua piring, dua sendok, satu garpu, dan gelas--perlengkapan awal yg saya punya untuk saat ini. Hihi

Begitu kali pertama menjejak dengan dua ransel dan satu travelling bag. Kamar yg akan saya tempati sudah ada lampu, gorden merah jambu (saya ulangi, merah jambu :-*) menggantung hingga menutup lubang angin atas tapi tanpa 'kawat nyamuk', sebuah tempat tidur + kasurnya dengan ukuran 2x2 ( yg ternyata disusun dari dua kasur kapok 2x1m). Semua tampak sudah siap. Tapi lantaran, tidak dipakai, lazim adanya debu-debu yg menempel di lantai dan sarang laba2 di langit2 juga nyamuk2 dikolong2nya.

Sekitar dua jam beberes. Nyapu, ngepel, menjemur kasur dan bantal2, merendam seprei2nya, membilas lantai dan bak kamar mandinya. Siang yang cerah [dan panas khas surabaya]. Suguhan siang itu soto suroboyo khas buatan ibunya rifan pas banget.

Satu dari tiga itu nantinya akan dibuat ruang kerja tim. Lanjut rifan. Sambil menunjuk ruang kosong di ujung sebelah kanan dekat dapur itu. Rencananya akan ada meja komputer dan kursi-kursi [mungkin jg karpet]. Oleh karenanya kamar kosong itu saya biarkan kosong tidak dipakai. Ruang disebelahnya yang juga ruang tengah bangunan ini. Saya hamparkan sajadah untuk sholat [ untk solat sunah dan klo gak keburu berjamaah dimasjid. He]

Sore, 31 desember 2011. Hujan sedemikian lebatnya. Yang konon katanya malam di hari itu akan jadi malam pergantian tahun dan sudah ramai berita dimana2 di kota2 lain. Ancaman hujan terhadap pesta2 kembang api yg direncanakan itu. Dan, hujan masih sedemikian derasnya hingga magrib menjelang. Saya sih masih asyik aja bercericit, berbagi kegalauan di twitter. Hingga.. Saya dapati halaman depan kamar yang beraneka rupa rumput teki dan lalang ini menjadi kubangan sedalam mata kaki. Dan diluar sana, anak anak sudah hingar berteriak yang saya lihat dari kejauhan di kamar. Rupanya mereka asyik berjalan jalan di jalanan gang yang mendadak jadi kolam seukuran betis orang dewasa atau 25-30 cm. Dan lagi, dua rumah sebelah kosan saya airnya masuk kedalam rumah. Malang sekali mereka. Saya keluar rumah untk sholat maghrib berjamaah. "ini banjir yg pertama selama saya tinggal disini" begitu seluroh ibunda rifan. Saat kami makan malam, yang lauknya masih soto surabaya khas.

Wow! Untuk kali pertamanya saya datang kesini dan banjir *ngayal klenik. Tapi saya gak bawa apa2 kesini. Yaiyalah secara, keluarga rifan sudah belasan tahun disini. Dan ini terjadi di akhir 2011 jelang 2012. *kemudian hening

Jarak kosan saya (baca: rumahnya rifan yg pinjamkan ke saya) dan.rumah rifan terpaut empat rumah. Yang katanya rumah-rumah diantara masih ada hubungan alias sodaraan. Tepat didepan kosan terdapat semacam pengepul barang bekas rongkosan. Mulai dari plastik, kertas, ban dalem sampe sepeda bekas/besi tua. Campur2 disana. Yang pada banjir lalu itu, khawatir kalo-kalo sampah2 besi tuanya. Menciderai pejalan kaki atau motor yg dipaksa menerabas. Dipaksa karena boleh jadi muda-mudi saat itu ingin merayakan mlm tahun baru yg juga satnight. Kemudian jarak kosan ke masjid terdekat hanya berselisih 12 rumah. Tapi saya sering terlambat sholat disini. Lantaran biasa di kampus, ipb, atau di rumah, tigaraksa, bada adzan ada selisih 15 menit sebelum iqomat. *ngeles hehe.

Nama jalan ini gang modim. Entah apa artinya. Kalau di djakarta doeloe say pernah tinggal ada namanya gang haji sanip, haji ali, sampe haji mansyur. Lantaran mereka-mereka tuan tanah disana waktu sekaligus tokoh. Di gang ini juga ada pesantren mahasisma. Semacam al inayah dan al iffah di ipb yg masyhur itu. Santri/wati nya adalah juga mahasiswa IAIN surabaya [masih IAIN bukan UIN]. Sehingga penampilannya pun, untuk akhwat, berkerudung sedada dan banyak juga yang bergamis, amat sedikit disini yang memakai jeans pencil dan maaf u can see jilbabnya. Maka dari itu, mereka tampak manis dan *plokk udah keburu digampar gw. He. *Sabar2, sebentar lagi ada yg lebih manis kok, gula jawa. *opoo
_____
Inilah sekilas info. Ngisi waktu sore2 ngegaje di kosan. Sambil mulut tetep ngunyah penganan dari magetan, kue carang mas, ubi jalar yang diiris tipis2 dan dibuat sedemikian rupa dengan gula merah sebagai perekatnya mmbentuk bulatan. He

10 jan 12 / 16.32
Published with Blogger-droid v1.7.4

Minggu, 08 Januari 2012

#everydayisholiday

Hi sobat muda
Lama tak bersua dan menyapa. Saat menuliskan ini, saya berada di po. Mira, bus solo - surabaya. Barusan banget naek dari terminal maospati, magetan.
Sambil juga mendengarkan 'musisi jalanan' ini mendendang 'alamat palsu'.

Jadi saya pengin bercerita tentang judul tulisan ini. Yup, hari-hari penuh liburan *ahaii.. Bukan maksud untk pamer-pameran. Tapi saya anggap, pekerjaan saya seperi liburan. Jalan-jalan, lihat-lihat, makan-makan, tulis-tulis. Jenis pekerjaan yg amar saya syukuri ini--meskipun tidak pernah sebelumnya untk masuk dalam jenis profeai yg baru kali ada di indonesia. He.

Djuanda
Sehari setelah natal, 26 desember 2011, senin. Untk kali pertama jua. Ibu mengantarkan sampai pintu terminal 1A bandara soetta. Perjalanan domestik pertama dengan pesawat pasca dari germany beberapa pekan sebelumnya. Kali pertama juga bepergian sendirian. Klo biasanya rame2. Saya akan terbang ke surabaya dengan pesawat lion air yg dijadwalkan pk. 09.10 . Sudah pukul 08.00 saya tiba, cek in, menunggu.

Memandangi jakarta di ketinggian sekitar 4000 kaki itu #keren. Lalu bertambah tinggi dan berselimut awan hingga tak ada pemandangan "maket" itu. Persis sekali seperti memandangi googlemap versi live.

Tidak jua ngantuk, tapi mata ini harus dipejam. Duduk persis jndela, dpat memandangi pergerakan dinamis sayap pesawat itu #keren. Hingga saru jam 30 menit. Pesawat akan mendarat. Entah kenapa bisa begitu lama. 10.40 dijadwalkan sudah medarat di djuanda, surabaya.

Bandara djuanda saya pikir tidak lebih besar dari soeltan syarif kasim II, pekanbru, riau. Keduanya juga berpredikat " bandara internasional". Dengan ringannya, hnya tas gemblok Rei di punggung. Berjalan masuk koridor. Dan cerita yang sudah lama didengar tentang surabaya ini terbukti. Puanaasse reekk terasa. He.

Saya hanya membawa dua tas di bagasi yang berukuran sedang.-- Awalnya ingin membawa koper lemari yang kemarin dibawa ke jerman. Lantaran satu rodanya lepas. Maka batal rencana itu.-- sedapat mungkin berisi perlengkapan survival untuk satu bulan ke depan dengan tas itu.

Sambil mendorong troli menghadapkan arah pintu keluar. Melihat-lihat sekitar. Tepat di depan pintu keluar. Terdapat sebuah loket bluebird taxi--yg kata bapak saya, yg pernah bolak-balik k srbaya ini--taxi di djuanda ini harus lewat loket resmi. Maka saya katakan saja,
"ke rungkut mas" sambil saya lihat alamat lengkapnya yg pernah dikirim riris via sms "rungkut asri utara"
Petugas itu melihat semacam buku besar sambil mengingat-ingat, lokasi tersebut masih dalam zona A katanya. " 95 ribu mas"
Tidak ada tawar - menawar, harga pas. Berangkat. Ternyata bukan taxi sedan dengan warna biru khas bluebird. Mobil yg saya tumpabgi ini avanza metal, tentu tanpa argo didalamnya. Petugas di bandara memberikan semacam surat jalan kepada sopir tsb. Dan kami pun meluncur.

Tiga puluh menit hingga sampai rungkut. Tidak macet memang tapi ramai dngan kendaraan pribadi yg didominasi motor. Belakangan saya tahu, angkutan massal di surabaya ini minim atau dibuat sedikit di jalan-jalan.

Dan tiba jua didepan rumah berpagar tinggi seperti tertulis di sms. Rungkut asri utara II no. 5. Dua rumah sebelah alfamart,tidak jauh dari pasar tradisional dan kecamatan rungkut.


Welcome surabaya. Im here!
26des 2011 pk. 12.30
Published with Blogger-droid v1.7.4